Kasus Novel Baswedan Sampai ke Amerika Serikat

 Kasus Novel Baswedan Sampai ke Amerika Serikat

Hal mengejutkan terjadi saat ada informasi bahwa kasus novel baswedan akan dibahas di negeri adidaya siapa lagi kalo bukan Amerika Serikat. Tentu saja hal ini mengejutkan beberapa pihak. Hal ini tentu saja didasari dengan beberapa alasan. Menurut Lembaga Amnesty International Indonesia memutuskan membawa kasus penyiraman air keras terhadap Novel ke dalam sesi dengar pendapat Kongres Amerika Serikat, kemarin. Menurut staf Komunikasi dan Media Amnesty International Indonesia, Haeril Halim, kasus Novel salah satu dari beberapa insiden pelanggaran hak asasi manusia yang dibahas pada forum Human Rights in Southeast Asia: A Regional Outlook.

Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengatakan serangan terhadap Novel memperlihatkan hubungan erat antara isu korupsi dan HAM. Apalagi, kata dia, banyak penyidik KPK yang mengusut korupsi di sektor sumber daya alam juga diserang dan diintimidasi. Ia merasa bahwa Indonesia perlu mendapat dukungan, baik dari dalam maupun luar negeri. Kemudian, alasan kedua adalah serangan terhadap Novel bukanlah masalah teror semata. Tetapi menjadi masalah serius yang mengancam kelanjutan pelaksanaan agenda reformasi di Indonesia. Khususnya, dalam bidang pemberantasan korupsi dan penegakan HAM.

Baca Juga :  Teror Air Keras Novel Baswedan Dituduh Hanya Rekayasa, KPK Bisa Apa?

Hal ini menjadi masuk akal apabila kita melihat track record proses hukum kasus novel baswedan yang tidak kunjung selesai.

Kasus Terjadi Sejak April 2017

Novel Baswedan diserang dua orang tak dikenal sepulang dari salat subuh berjamaah di Masjid Ihsan di dekat rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kedua orang yang berboncengan dengan sepeda motor itu dengan sengaja menyiramkan air keras ke wajah penyidik yang banyak mengusut kasus korupsi besar ini.

Akibatnya, dua mata Novel terancam buta. Mata

kiri novel rusak hingga 95 persen. Novel harus menjalani operasi berkali-kali di Singapura.

Presiden Diminta Membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta

Sehari sejak Novel diserang, KPK meminta Presiden Joko Widodo membentuk tim gabungan untuk mengusut perkara ini. Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas meminta Jokowi langsung membentuk tim gabungan untuk mengusut penyerang Novel. “Presiden harus turun tangan langsung membentuk tim gabungan dari unsur Polri, NGO, dan kampus,” kata Busyro, 12 April 2017.

Komnas HAM Siapkan Tim Pencari Fakta

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyiapkan pembentukan TGPF untuk kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. Hasil investigasi pendahuluan oleh tim dari Sub Komisi Pemantauan Komnas HAM menemukan indikasi pelanggaran hak asasi manusia dalam teror yang menimpa penyidik utama KPK itu.

Baca Juga :  KPK Respons Jokowi soal Temuan Baru di Kasus Novel

Polisi Rilis Sketsa Pelaku Penyerangan

Kepolisian RI mempublikasikan sketsa wajah satu dari dua orang yang dicurigai sebagai pelaku penyerangan terhadap Novel pada 1 Agustus 2017. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan timnya merilis sketsa dari penyempurnaan tiga sketsa sebelumnya. “Ini statusnya (hasil sketsa) baik. Artinya mendekati wajah yang dilihat saksi,” kata Tito di Istana Kepresidenan, Agustus 2017.

Pengusutan Kasus Novel Setahun Jalan di Tempat

Setahun berlalu, pelaku penyerangan Novel belum juga ditangkap kepolisian. Koalisi masyarakat sipil kembali menagih janji Presiden untuk menuntaskan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan.

Polisi Bentuk TGPF Setelah Hampir Dua Tahun Kasus Mandek

Markas Besar Kepolisian RI akhirnya membentuk tim gabungan untuk menindaklanjuti kasus Novel Baswedan awal 2019. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Muhammad Iqbal mengatakan tim gabungan itu merupakan tidak lanjut dari rekomendasi Komnas HAM akhir Desember 2018.

Wili Surya Nagara

Related post