Topik Pilihan : Partai-partai politik menghargai pertemuan Jokowi-Prabowo

 Topik Pilihan : Partai-partai politik menghargai pertemuan Jokowi-Prabowo

Partai-partai politik, baik di koalisi atau kubu oposisi, telah menyatakan penghargaan mereka untuk rekonsiliasi mantan calon presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Prabowo Subianto pada hari Sabtu. Mereka berharap bahwa rakyat akan mengikuti dan mengakhiri polarisasi yang muncul selama pemilihan.

“Tidak ada lagi kamp 01 atau 02. Kami telah bersatu dengan nama Indonesia, ”kata wakil sekretaris jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) jenderal Eriko Sotarduga Sitorus di Medan, Sumatera Utara.

Sementara itu, ketua dewan eksekutif pusat Partai Kebangkitan Nasional (PKB), Abdul Kadir Karding, berharap bahwa sudah waktunya bagi orang Indonesia untuk bersatu dan bekerja sama untuk kesejahteraan bangsa.

“Pertemuan itu tentu saja melegakan hati. Dua orang yang sebelumnya dianggap sebagai saingan kini telah menjadi teman, ”kata Karding. Baik PDI-P maupun PKB berasal dari kubu koalisi.

Para pihak dari kubu oposisi, lebih jauh, juga melihat pertemuan itu sebagai sesuatu yang dihargai karena dapat menyatukan negara yang terpolarisasi.

“PAN [Partai Amanat Nasional] berharap bahwa semua elemen dalam masyarakat dapat bersatu kembali dan bekerja bersama untuk menyelesaikan masalah yang mungkin muncul di masa depan,” kata sekretaris jenderal partai, Eddy Soeparno, seperti dikutip oleh kompas.com .

Sentimen serupa diungkapkan oleh ketua tim advokasi dan hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, yang mengatakan Jokowi dan Prabowo telah mengesampingkan ego mereka untuk kepentingan bangsa. “Partai Demokrat menghargai langkah ini,” katanya. Namun, baik PAN maupun Dems, belum mengumumkan keputusan akhir mereka tentang masalah koalisi-oposisi. Namun, mereka sebelumnya mengirim sinyal kuat bahwa mereka akan bergabung dengan pemerintah, bukannya tinggal di kamp koalisi.

Gempa Berkekuatan 5,5 Menghancurkan Bangunan di Sumbawa : Tidak Ada Korban Jiwa

Gempa berkekuatan 5,5 yang melanda Kabupaten Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu pagi (13/7/2019) menghancurkan sejumlah rumah dan rumah ibadah di Kabupaten Labangka. Gempa itu tercatat di 70 kilometer tenggara Sumbawa pada kedalaman 43 kilometer.

Baca Juga :  Anies Salahkan Sistem, Ahok : Sistem Baik Jika Tidak Ada Niat Mencuri

Pada hari Minggu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mencatat setidaknya 45 gempa susulan di sekitar pusat gempa bumi pertama

“Sejauh ini, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana NTB Ahsanul Khalik di Mataram, NTB, pada hari Minggu. Di Kecamatan Labangka, gempa bumi merusak Candi Semare Budhi di desa Beringin Jaya dan setidaknya lima rumah lainnya. Sebuah rumah di Kecamatan Sekokat dan kantor pusat kesehatan hewan Labangka (Puskeswan) di Sukadamai juga hancur.

“Kami telah melaporkannya kepada gubernur,” kata Ahsanul, menambahkan bahwa pihaknya mengumpulkan data dari Badan Mitigasi Bencana Sumbawa, Komando Distrik Militer Sumbawa dan Badan Ketertiban Umum Sumbawa. Gempa itu juga terasa di Lombok, memicu kepanikan di antara warga. Lombok diguncang

gempa bumi dahsyat pada Agustus tahun lalu, yang menewaskan sedikitnya 469 orang.

Guru Bimbel Mendesak Orang Untuk Tidak Memajang Foto Presiden Jokowi di Akun Facebook

Polisi telah menahan dan menunjuk guru Asteria Fitriani sebagai tersangka karena diduga menyebarkan berita palsu yang dibenci oleh kebencian di posnya di Facebook di mana ia diduga mendesak orang-orang untuk tidak memajang foto Presiden Jokowi di layar. Dia diduga membuat status Facebook pada 28 Juni sebagai tanggapan terhadap putusan yang dikeluarkan oleh Mahkamah Konstitusi terkait sengketa pemilihan presiden tahun 2019 yang menolak gugatan yang diajukan oleh tim saingannya, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Jokowi dan calon wakil presiden Ma’ruf Amin kemudian dinyatakan sebagai pemenang pemilihan oleh Komisi Pemilihan Umum.

Di akun Facebook-nya, Asteria diduga menulis, “Jika saya bisa memberikan ide, sekolah tidak boleh lagi memajang foto Presiden dan Wakil Presiden. Catat foto-fotonya. Sebagai guru, kami tidak ingin mengajari siswa kami untuk membiarkan ketidakadilan dan penipuan terjadi, bukan? Cukup letakkan foto Gubernur Anies Baswedan. ”

Baca Juga :  Happy New Year Anies, 6 Fakta Dibalik Banjir Jakarta

Posting ini menjadi viral dan memicu diskusi online di antara para netizen. Seorang pengguna yang diidentifikasi hanya sebagai TCS melaporkan tangkapan layar status dan melaporkannya ke Kepolisian Jakarta Utara atas dugaan konten pidato kebencian online.

Melalui pos Facebook-nya, dia menuduh ibu dari lima menyebarkan pidato kebencian dan berita palsu yang dapat memicu kerusuhan dan menghina pemerintah. Budhi menjelaskan pertanyaan awal yang menunjukkan bahwa dia dipicu oleh emosi seputar pemilihan presiden 2019 ketika dia diduga menulis status. “Dia dipengaruhi oleh kondisi pasca pemilihan. Dia tidak bisa menahan emosinya yang mendorongnya untuk menulis posting, ”katanya.

Guru yang mengajar sepulang sekolah ditahan oleh Kepolisian Jakarta Utara dan hukumannya bisa di atas lima tahun penjara, Budhi menambahkan. Polisi menjatuhkan pernyataan dengan beberapa tuduhan termasuk UU ITE 2016 yang kontroversial, Pasal 15 KUHP karena menyebarkan berita palsu, Pasal 160 tentang provokasi dan Pasal 2017 karena menghina mereka yang berkuasa di lembaga-lembaga hukum. Dia bisa menghadapi hukuman enam tahun penjara atau denda Rp 1 miliar (US $ 71.469).

Asteria telah menyatakan permintaan maafnya setelah penangkapannya. Dia mengatakan bahwa dia menyesali kesalahannya dan bahwa dia dipicu oleh emosi pada waktu itu. “Saya tidak punya niat untuk memprovokasi orang untuk melakukan sesuatu seperti apa yang dituduhkan orang kepada saya,” katanya seperti dilansir kompas.com.

Asteria adalah orang terbaru yang didakwa berdasarkan UU ITE yang kontroversial yang telah lama dikritik oleh para aktivis. Awalnya disahkan untuk mengatur transaksi elektronik, para aktivis telah mencatat bahwa undang-undang tersebut telah digunakan untuk menuntut yang diduga melakukan fitnah dan kebencian.

 

Wili Surya Nagara

Related post